SHOLAT JUMAT KALI INI RASANYA BERBEDA
Krn ini jumat terakhir sblm masuk bulan Ramadhan. Dan saya dapatkan nasihat khutbah itu dalam bahasa turki di Masjid Sultan Ahmet, Istanbul.
Beruntung ada aplikasi yg menterjemahkan khutbah bahasa turki itu ke bahasa inggris.
Orang sebelah saya yg ngajarin.
Rasanya merinding dengar khatib memotivasi rakyat turki. Ya krn nasihatnya diulang-ulang, mendandakan seperti mau berjuang keras luar biasa. Ya wajar sih puasanya org eropa ini lebih lama dari kita.
Saya lgsg lihat jam : waw puasa mereka 2,5-3 jam lebih lama daripada kita di Indonesia. Kalau kita kan cuma 14 jam. Mereka 16,5 sampai 17 jam. Maghribnya baru jam 8 malem.
Pantas sih kalau khatibnya menggebu2 menyemangati. Krn ga mudah puasa di eropa ini.
Saya akan dapat 5 hari puasa di Monaco. Smg Allah mudahkan melaluinya. Temen2 seperjalanan sudah siap2 utk tarawih dan sahur bersama. Mudah2an pihak hotel mengizinkan dan memberi ruangan.
Siap semangat mengejar keberkahan Ramadhan yg lebih panjang dari biasanya.
Krn ini jumat terakhir sblm masuk bulan Ramadhan. Dan saya dapatkan nasihat khutbah itu dalam bahasa turki di Masjid Sultan Ahmet, Istanbul.
Beruntung ada aplikasi yg menterjemahkan khutbah bahasa turki itu ke bahasa inggris.
Orang sebelah saya yg ngajarin.
Rasanya merinding dengar khatib memotivasi rakyat turki. Ya krn nasihatnya diulang-ulang, mendandakan seperti mau berjuang keras luar biasa. Ya wajar sih puasanya org eropa ini lebih lama dari kita.
Saya lgsg lihat jam : waw puasa mereka 2,5-3 jam lebih lama daripada kita di Indonesia. Kalau kita kan cuma 14 jam. Mereka 16,5 sampai 17 jam. Maghribnya baru jam 8 malem.
Pantas sih kalau khatibnya menggebu2 menyemangati. Krn ga mudah puasa di eropa ini.
Saya akan dapat 5 hari puasa di Monaco. Smg Allah mudahkan melaluinya. Temen2 seperjalanan sudah siap2 utk tarawih dan sahur bersama. Mudah2an pihak hotel mengizinkan dan memberi ruangan.
Siap semangat mengejar keberkahan Ramadhan yg lebih panjang dari biasanya.
❤2
DO YOU DO RAMADHAN?
Itu pertanyaan seorang driver yang mengantar saya dari bandara prancis ke hotel dekat menara eifell.
Beberapa kali saya ke Eropa dan supirnya selalu Muslim. Tak berbeda dengan kali ini. Rasanya seperti di rumah sendiri, menemukan Muslim di negeri Eropa.
Ah sayang, saya ga tanya nama. Di kepala saya lebih sibuk menyalahkan diri sendiri, kenapa langsung ambil taxi calo dan ga ke taxi resmi.
Tapi, semua sudah terjadi. Saya berusaha menemukan nilai bahagia dari pilihan yang tidak tepat ini.
Dan saya menemukan kebahagiaan itu ada pada keramahan sang driver. Seorang Aljazair yang sudah lahir dan besar di Paris.
“Do you do Ramadhan? Because in Paris, we fasted 17 hours and now you are in safar?”
“Yes, i’ll try” jawab saya mantap. “And you? Do yo do Ramadhan?” Tanya saya balik.
“Off course!” Jawaban dia lebih mantap. Lalu dia jelaskan tentang puasa di Norway yang bisa 22 jam berpuasa. Dan itu tidak mungkin katanya. Ulama memberikan fatwa untuk ikut ke negara Muslim terdekat.
Terus dan terus dia mengajarkan banyak hal pada saya. “Wow ini Muslim kuat nampaknya”
Ya saya tadinya mengukur sang driver ini Muslim yang tidak kuat. Karena biasanya begitu. Tapi kali ini berbeda, beruntung karena saya dapat kesempatan belajar banyak hal2 baik darinya.
Dalam kepala saya, mensetting niat. Berapapun biaya yang dia minta, saya akan berikan tanpa nawar.
“Biayanya 81,7 euro” kata dia ketika sampai. Saya tunjukkan aplikasi converter dan keluar 91,3 dolar. Lalu saya berikan 100 dolar padanya dan meminta untuk mengambil kembaliannya.
“Are you sure?” Dia memastikan. Lalu saya jabat erat tangannya. “Halal” ucap saya. Dia gembira, saya gembira. Gembira karena Allah jaga kami dalam perjalanan sampai ke hotel di pukul 24 tengah malam.
Gembira karena saya bisa tetap bahagia tanpa syarat. Lalu Allah yang mengajarkan banyak hal melalui lisan sang driver.
Itu pertanyaan seorang driver yang mengantar saya dari bandara prancis ke hotel dekat menara eifell.
Beberapa kali saya ke Eropa dan supirnya selalu Muslim. Tak berbeda dengan kali ini. Rasanya seperti di rumah sendiri, menemukan Muslim di negeri Eropa.
Ah sayang, saya ga tanya nama. Di kepala saya lebih sibuk menyalahkan diri sendiri, kenapa langsung ambil taxi calo dan ga ke taxi resmi.
Tapi, semua sudah terjadi. Saya berusaha menemukan nilai bahagia dari pilihan yang tidak tepat ini.
Dan saya menemukan kebahagiaan itu ada pada keramahan sang driver. Seorang Aljazair yang sudah lahir dan besar di Paris.
“Do you do Ramadhan? Because in Paris, we fasted 17 hours and now you are in safar?”
“Yes, i’ll try” jawab saya mantap. “And you? Do yo do Ramadhan?” Tanya saya balik.
“Off course!” Jawaban dia lebih mantap. Lalu dia jelaskan tentang puasa di Norway yang bisa 22 jam berpuasa. Dan itu tidak mungkin katanya. Ulama memberikan fatwa untuk ikut ke negara Muslim terdekat.
Terus dan terus dia mengajarkan banyak hal pada saya. “Wow ini Muslim kuat nampaknya”
Ya saya tadinya mengukur sang driver ini Muslim yang tidak kuat. Karena biasanya begitu. Tapi kali ini berbeda, beruntung karena saya dapat kesempatan belajar banyak hal2 baik darinya.
Dalam kepala saya, mensetting niat. Berapapun biaya yang dia minta, saya akan berikan tanpa nawar.
“Biayanya 81,7 euro” kata dia ketika sampai. Saya tunjukkan aplikasi converter dan keluar 91,3 dolar. Lalu saya berikan 100 dolar padanya dan meminta untuk mengambil kembaliannya.
“Are you sure?” Dia memastikan. Lalu saya jabat erat tangannya. “Halal” ucap saya. Dia gembira, saya gembira. Gembira karena Allah jaga kami dalam perjalanan sampai ke hotel di pukul 24 tengah malam.
Gembira karena saya bisa tetap bahagia tanpa syarat. Lalu Allah yang mengajarkan banyak hal melalui lisan sang driver.
❤2
Ini foto saat taxi kami harus melalui perempatan di menara eifell.
❤1
H-7
Safari Ramadhan DEPOK
13 mei 2019
Hotel Bumi Wiyata, Depok
Smg Allah mudahkan kita silaturrahim dan mengkaji ilmu Magnet Rezeki
Infaq : Rp 200.000,-
Daftar di
wa.me/6282383954056
Safari Ramadhan DEPOK
13 mei 2019
Hotel Bumi Wiyata, Depok
Smg Allah mudahkan kita silaturrahim dan mengkaji ilmu Magnet Rezeki
Infaq : Rp 200.000,-
Daftar di
wa.me/6282383954056
❤1
KEHILANGAN HAPE DI PARIS
“Biii... kayaknya hape aku jatuuuh” seru Fadhilah panik. Saya segera berbalik dan menghampirinya. Pagi itu hujan dan berangin. Suhu yang dingin makin dingin. Mungkin sekitar 3 derajat celcius.
Dhila nampaknya kerepotan. Pegang payung, pasang sarung tangan, jaketnya juga seperti tidak mendukung suhu dingin. Saya ga sempet memeriksa saat siap2. Cuma uminya yang banyak brief.
Okelah... ini anak belum siap. Namanya juga anak2, baru lulus SMP. Saat melihat menara eiffel pertama kali, dia langsung merogoh kantongnya dan saat itu hapenya jatuh. Tangannya beku. Tapi dia ga sadar bla bla... terang dhila ga jelas.
Yang membuat dia panik, itu bukan hapenya dia. Tapi Hape kakaknya, Farhah. Iphone 7 pemberian saya. Sudahlah merasa kehilangan, plus takut diomeli kakaknya yang mungkin cemburu dhila dapat trip yang lebih spesial darinya, lengkap!.
Saya terburu2 berbalik, menyusuri jalan dan menyisir pandangan yang masih berhias air hujan. Tidak ada. Ya sudah. Hape itu berubah bentuk. Ya kan ga ada yang hilang. Hanya berubah energi.
Saya tarik nafas. Berusaha bahagia tanpa syarat. Semua sudah sempurna. Apapun yang terjadi, pasti ada hikmahnya. Wooow kereeeen ucap saya.
Tapi Dhila masih bersedih. Dia masih belum percaya hape itu harus lepas dari dirinya.
Di dalam Bis Hop On Hop Off saya berusaha membesarkan hatinya. “Abi ga marah?” Tanyanya. “Untuk apa marah? Malah kita jadi ga bisa menikmati perjalanan ini. Sudahlah hape ga ada, trus harus kehilangan bahagia menikmati perjalanan? Ya gak lah...”
Secara pribadi saya sudah mendidik diri untuk siap kehilangan. Toh itu adalah bungkus permen yang menjadi tanda akan dapat permennya. “Buaagus itu” seru saya pada dia.
Tapi buru-buru saya bingkai pendidikan ini dengan rasa tanggung jawab. “Tapi Dhila harus banyak belajar dari kejadian ini” seru saya. “Iya bi”
“Pertama, ga ada yang terjadi kecuali karena dosa. Coba Dhila berfikir dosa apa. Dan minta ampun ke Allah. Lalu ganti dengan kesungguhan yang teramat sungguh2, Dhila harus selesaikan hafalannya yang ditunda-tunda. Mungkin karena Dhila sering menunda2 jadinya Allah kasi ujian ini”
“Iya bi” jawab dhila sambil melihat2 jalanan Paris yang indah.
“Abi juga mungkin banyak dosa. Sedekah kurang. Pergi ga sholat dhuha dulu” seru saya. “Lho koq abi yang salah?” Tanya dia. “Ya mau gimana lagi, kan abi yang harus ganti tuh hape. Kan abi yg juga kena dampak. Nah itu bukan karena dosa siapa-siapa. Tapi karena dosa abi sendiri”
Dhila belajar banyak. Saya pun belajar. Ini yang saya nikmati dari safar, banyak pelajaran yang didapat di luar naskah-naskah buku dan teori. Sambil saya terus menanam cinta pada anak-anak saya, agar saya bisa bertanggung jawab pada Allah atas amanah anak yang mulia ini.
Dhila mengambil kamera mirrorless lumix kesayangan saya. Jepret jepret. Saya berdoa, memori perjalanan ini akan berbekas indah dalam hatinya. Jadi anak sholehah yaa Naak...
“Biii... kayaknya hape aku jatuuuh” seru Fadhilah panik. Saya segera berbalik dan menghampirinya. Pagi itu hujan dan berangin. Suhu yang dingin makin dingin. Mungkin sekitar 3 derajat celcius.
Dhila nampaknya kerepotan. Pegang payung, pasang sarung tangan, jaketnya juga seperti tidak mendukung suhu dingin. Saya ga sempet memeriksa saat siap2. Cuma uminya yang banyak brief.
Okelah... ini anak belum siap. Namanya juga anak2, baru lulus SMP. Saat melihat menara eiffel pertama kali, dia langsung merogoh kantongnya dan saat itu hapenya jatuh. Tangannya beku. Tapi dia ga sadar bla bla... terang dhila ga jelas.
Yang membuat dia panik, itu bukan hapenya dia. Tapi Hape kakaknya, Farhah. Iphone 7 pemberian saya. Sudahlah merasa kehilangan, plus takut diomeli kakaknya yang mungkin cemburu dhila dapat trip yang lebih spesial darinya, lengkap!.
Saya terburu2 berbalik, menyusuri jalan dan menyisir pandangan yang masih berhias air hujan. Tidak ada. Ya sudah. Hape itu berubah bentuk. Ya kan ga ada yang hilang. Hanya berubah energi.
Saya tarik nafas. Berusaha bahagia tanpa syarat. Semua sudah sempurna. Apapun yang terjadi, pasti ada hikmahnya. Wooow kereeeen ucap saya.
Tapi Dhila masih bersedih. Dia masih belum percaya hape itu harus lepas dari dirinya.
Di dalam Bis Hop On Hop Off saya berusaha membesarkan hatinya. “Abi ga marah?” Tanyanya. “Untuk apa marah? Malah kita jadi ga bisa menikmati perjalanan ini. Sudahlah hape ga ada, trus harus kehilangan bahagia menikmati perjalanan? Ya gak lah...”
Secara pribadi saya sudah mendidik diri untuk siap kehilangan. Toh itu adalah bungkus permen yang menjadi tanda akan dapat permennya. “Buaagus itu” seru saya pada dia.
Tapi buru-buru saya bingkai pendidikan ini dengan rasa tanggung jawab. “Tapi Dhila harus banyak belajar dari kejadian ini” seru saya. “Iya bi”
“Pertama, ga ada yang terjadi kecuali karena dosa. Coba Dhila berfikir dosa apa. Dan minta ampun ke Allah. Lalu ganti dengan kesungguhan yang teramat sungguh2, Dhila harus selesaikan hafalannya yang ditunda-tunda. Mungkin karena Dhila sering menunda2 jadinya Allah kasi ujian ini”
“Iya bi” jawab dhila sambil melihat2 jalanan Paris yang indah.
“Abi juga mungkin banyak dosa. Sedekah kurang. Pergi ga sholat dhuha dulu” seru saya. “Lho koq abi yang salah?” Tanya dia. “Ya mau gimana lagi, kan abi yang harus ganti tuh hape. Kan abi yg juga kena dampak. Nah itu bukan karena dosa siapa-siapa. Tapi karena dosa abi sendiri”
Dhila belajar banyak. Saya pun belajar. Ini yang saya nikmati dari safar, banyak pelajaran yang didapat di luar naskah-naskah buku dan teori. Sambil saya terus menanam cinta pada anak-anak saya, agar saya bisa bertanggung jawab pada Allah atas amanah anak yang mulia ini.
Dhila mengambil kamera mirrorless lumix kesayangan saya. Jepret jepret. Saya berdoa, memori perjalanan ini akan berbekas indah dalam hatinya. Jadi anak sholehah yaa Naak...
❤2
*Allah lancarkan Persalinan Dengan Dzikir MR*
oleh: Ardi Gunawan
Dzikir Magnet Rezeki, kita sebut ini untuk memudahkannya karena sering digunakan oleh Ustadz Nasrullah pada saat Camp Magnet Rezeki.
Awalnya Saya sedikit tidak tenang, karena keadaan istri di hamil yang ketiga ini kurang begitu kuat..
Saya teringat dengan Ibu Rika salah satu trainer Magnet Rezeki yang selamat dari tsunami Palu, beliau cerita kepada saya dalam ketidaknyaman terbawa ombak ia baca dzikir ini.
Akhirnya Saya ambil HP dan membuka Channel Telegram Audio Magnet Rezeki Ustadz Nasrullah bertema: Dzikir almalikul haqqul mubin.
Saat habis audio itu dan masuk ke audio berikutnya Goa Keajaiban. Saya back lagi, dan terus saya ulangi, dan ulangi lagi.
Saat dokter masukpun, ketika saya ingin mengecilkan suara, dokter melarang dan menyuruh "biarkan saja Mas Ardi dzikir itu berjalan". Karena dia tau keadaan diruangan semakin tenang dengan adanya dzikir ini.
Qoddarullah yang awalnya istri sudah tidak kuat, Allah mudahkan persalinan dan melahirkan dipukul 21.50 wib. Tanggal 7 Mei 2019.
Marhaban Ya Ramadhan.
akhirnya saya beri nama Omar.
Selamat datang wahai Omar, meneladani Nabi Muhammad, semoga jadi anak yang soleh,
pribadi magnet rezeki, membawa kebaikan untuk keluarga, agama dan bangsa.
Terima kasih atas do'a teman-teman semua..
Saya pribadi mendoakan juga kepada seluruh keluarga Magnet Rezeki Allah berkahi rezekinya, usianya dan hatinya..
Dan Allah muliakan orang tuanya dan semua keluarganya..
Salam Magnet Rezeki. Satu Sama Terhubung.
oleh: Ardi Gunawan
Dzikir Magnet Rezeki, kita sebut ini untuk memudahkannya karena sering digunakan oleh Ustadz Nasrullah pada saat Camp Magnet Rezeki.
Awalnya Saya sedikit tidak tenang, karena keadaan istri di hamil yang ketiga ini kurang begitu kuat..
Saya teringat dengan Ibu Rika salah satu trainer Magnet Rezeki yang selamat dari tsunami Palu, beliau cerita kepada saya dalam ketidaknyaman terbawa ombak ia baca dzikir ini.
Akhirnya Saya ambil HP dan membuka Channel Telegram Audio Magnet Rezeki Ustadz Nasrullah bertema: Dzikir almalikul haqqul mubin.
Saat habis audio itu dan masuk ke audio berikutnya Goa Keajaiban. Saya back lagi, dan terus saya ulangi, dan ulangi lagi.
Saat dokter masukpun, ketika saya ingin mengecilkan suara, dokter melarang dan menyuruh "biarkan saja Mas Ardi dzikir itu berjalan". Karena dia tau keadaan diruangan semakin tenang dengan adanya dzikir ini.
Qoddarullah yang awalnya istri sudah tidak kuat, Allah mudahkan persalinan dan melahirkan dipukul 21.50 wib. Tanggal 7 Mei 2019.
Marhaban Ya Ramadhan.
akhirnya saya beri nama Omar.
Selamat datang wahai Omar, meneladani Nabi Muhammad, semoga jadi anak yang soleh,
pribadi magnet rezeki, membawa kebaikan untuk keluarga, agama dan bangsa.
Terima kasih atas do'a teman-teman semua..
Saya pribadi mendoakan juga kepada seluruh keluarga Magnet Rezeki Allah berkahi rezekinya, usianya dan hatinya..
Dan Allah muliakan orang tuanya dan semua keluarganya..
Salam Magnet Rezeki. Satu Sama Terhubung.
❤3
❤1