BALADA TRAINER
MAGNET REZEKI
Beginilah kehidupan kami. Dihiasi dengan banyaknya orang2 yang mau konsultasi dan mengadukan persoalan hidupnya. Sebagai trainer, kami harus siap menemani mereka.
Malam ini, telah menunggu di lobby hotel di Shah Alam, Malaysia, seorang yang dipanggil Umi. Beliau menjaga dua cucunya di hari tua. Anaknya meninggal dunia, menantunya pun menghadapi persoalan yang tidak ringan.
Umi yang kini berumur 62 thn hidup seperti tanpa penyangga. Tanpa tiang. Mengandalkan uang pensiun, dia hidup dengan suami yang juga sudah tua, umur 66 tahun. Dan dua cucu yang salah satunya menghidap autis.
Ya hanya mereka, dua orang tua. Dan dua orang cucu.
Kami, sebagai trainer MR, harus memancarkan rasa cinta dan kasih sayang kami. Seletih apapun, dihadapan orang, kami harus tampil tegar, agar mereka punya sahabat yang bisa diandalkan.
Dengan sabar, sekitar 1 jam, saya dengarkan keluh kesahnya. Dan juga harapannya. Memisahkan hawa nafsunya, merapihkan kata-katanya. Meluruskan niatnya.
Lalu saya ajak Umi bergarpu tala. Dapatlah ayat yang menghibur hatinya.
“Dialah Allah yang meninggikan langit tanpa tiang” (13:2)
Paaaaas banget ayatnya. Umi yg hidup berasa tanpa tiang, Allah hibur bahwa Allah pun meninggikan langit tanpa tiang.
Seterusnya, adalah ayat2 penghibur hati dan yakin akan janji-Nya.
Setelah saya lihat garis wajahnya yang sudah semangat dan lepas belenggunya, saya pamit, krn besok harus beraktivitas. Pizza yang Umi siapkan, terpaksa saya ber-sopan2 menolaknya. Perut sudah terisi penuh dengan nasi goreng kampung dan sup tulang favorit saya.
Alhamdulillah Umi faham. Pizza itu mgkn akan mendarat di perut org lain.
Selamat menjalani hidup Umi. Yakinlah. Tegarlah. Allah Maha sayang pada hamba-Nya. Dia hadir. Dia Ada. Untuk menjadi “penyangga” bagi semua yang berharap kepada-Nya.
Doa saya pada Umi dan semua orangtua yang selalu sabar menemani generasi penerus bumi.
In picture : saya, puan Safiyah dan Umi yang memegang Al-Qur’an.
MAGNET REZEKI
Beginilah kehidupan kami. Dihiasi dengan banyaknya orang2 yang mau konsultasi dan mengadukan persoalan hidupnya. Sebagai trainer, kami harus siap menemani mereka.
Malam ini, telah menunggu di lobby hotel di Shah Alam, Malaysia, seorang yang dipanggil Umi. Beliau menjaga dua cucunya di hari tua. Anaknya meninggal dunia, menantunya pun menghadapi persoalan yang tidak ringan.
Umi yang kini berumur 62 thn hidup seperti tanpa penyangga. Tanpa tiang. Mengandalkan uang pensiun, dia hidup dengan suami yang juga sudah tua, umur 66 tahun. Dan dua cucu yang salah satunya menghidap autis.
Ya hanya mereka, dua orang tua. Dan dua orang cucu.
Kami, sebagai trainer MR, harus memancarkan rasa cinta dan kasih sayang kami. Seletih apapun, dihadapan orang, kami harus tampil tegar, agar mereka punya sahabat yang bisa diandalkan.
Dengan sabar, sekitar 1 jam, saya dengarkan keluh kesahnya. Dan juga harapannya. Memisahkan hawa nafsunya, merapihkan kata-katanya. Meluruskan niatnya.
Lalu saya ajak Umi bergarpu tala. Dapatlah ayat yang menghibur hatinya.
“Dialah Allah yang meninggikan langit tanpa tiang” (13:2)
Paaaaas banget ayatnya. Umi yg hidup berasa tanpa tiang, Allah hibur bahwa Allah pun meninggikan langit tanpa tiang.
Seterusnya, adalah ayat2 penghibur hati dan yakin akan janji-Nya.
Setelah saya lihat garis wajahnya yang sudah semangat dan lepas belenggunya, saya pamit, krn besok harus beraktivitas. Pizza yang Umi siapkan, terpaksa saya ber-sopan2 menolaknya. Perut sudah terisi penuh dengan nasi goreng kampung dan sup tulang favorit saya.
Alhamdulillah Umi faham. Pizza itu mgkn akan mendarat di perut org lain.
Selamat menjalani hidup Umi. Yakinlah. Tegarlah. Allah Maha sayang pada hamba-Nya. Dia hadir. Dia Ada. Untuk menjadi “penyangga” bagi semua yang berharap kepada-Nya.
Doa saya pada Umi dan semua orangtua yang selalu sabar menemani generasi penerus bumi.
In picture : saya, puan Safiyah dan Umi yang memegang Al-Qur’an.
❤1
Saya masih di Malaysia nih hehe... lumayan juga 3 hari.
Allah beri kesempatan menguatkan para ctmr di Malaysia. Dan mempromosikan kegiatan yg akan dihelat 2 November mendatang.
Yang di Malaysia, sila duduk diam, ilmu datang, pukul 11 pagi ini. In Syaa Allah bersama saya di Sinar Tv
Allah beri kesempatan menguatkan para ctmr di Malaysia. Dan mempromosikan kegiatan yg akan dihelat 2 November mendatang.
Yang di Malaysia, sila duduk diam, ilmu datang, pukul 11 pagi ini. In Syaa Allah bersama saya di Sinar Tv
❤1
Sinar Harian di Facebook disukai 4 juta. Super nih...
Alhamdulillah
Alhamdulillah
❤1
Alhamdulillah selesai perjalanan di Malaysia. Doakan teman2 di Malaysia ya... banyak rakyat Malaysia yang ternyata saaangat berharap ilmu ini...
❤1
Tadi siaran di Sinar Harian luar biasa... seneeeng banget, responnya Dahsyat. Alhamdulillah.
Ada satu keajaiban yang mau sy sharing, dari sekian banyak yang sy rasakan.
Selepas siaran, langsung masuk Dato Husamuddin. Beliau pemimpin di Sinar dan Karangkraf Grup. Seorang yang sangat disegani.
Dari gelar Dato saja sudah bisa diukur bahwa beliau punya peran sosial yang penting di Malaysia. Beliau juga penerbit Al-Qur’an terbesar di Malaysia. Di Indonesia juga punya share terbesar. Quran Cordoba namanya.
Sangat terkejut saya, karena beliau masuk ruangan. Kami merasa terhormat sekali.
Ternyata, beliau di wa oleh Prof Dr Muhaya, seorang profesor yang amat terkenal di Malaysia. “Bolehkah sy dapat kontak pak Nasrullah yang sedang Live di Sinar” begitu isi wa yang ditunjukkan pada saya.
Langsung lah saya telp Prof Muhaya. Allah kariiim, bergetar saya ditelp oleh orang penting di Malaysia. Yg me-like di akun facebooknya saja 1,3 juta. Kebayang kan betapa famousnya professor mata ini.
Pesan beliau “Saya support pak Nas sebarkan ilmu ini di Malaysia. Saya akan ajak sebanyak mungkin orang utk masuk kelas pak Nas. Saya pun mengundang pak Nas makan malam di rumah saya”
Allaaah... mimpi apa saya... ini ibarat jalan tol, menuju dream saya mengenalkan ilmu ini lebih besar di luar negeri. Saya merasa, Prof Muhaya adalah jalan kebaikan yang Allah kirim, utk memuluskan upaya menyebarkan ilmu ini.
Sebenarnya malam ini beliau undang saya... tapi... sy sudah safar terlalu lama. Sejak jumat meninggalkan rumah. Dan jumat lusa juga saya akan jalan lagi. Ada hak keluarga dan anak2 yg harus sy penuhi dulu.
Saya meminta izin, agar diaturkan ulang. In Syaa Allah sy akan kembali hari selasa ke Malaysia. Waaah jadi sering banget nih ke sini. Ya bismillah... udah terlanjur di LOP kan. Harus terima resikonya kan... hehe...
Dato Husham pun memberi jalan tol, agar buku RMR dicetak di Malaysia. Ya Allah... padahal sy muter otak utk buku ini. Allah kasi solusi yang sederhana.
Terimakasiiiiih sebanyak2nya untuk semua pihak, utamanya Dato Farida selaku pimpinan syarikat SST yg membawahi para ctmr malaysia. Encik Yani, Dato Hussamuddin, Prof Dr Muhaya, Ka Hazlina dan semua para CTMR atas safar yang indah ini.
Smg Allah muliakan kita semua di dunia dan akhirat. Aaamiin.
Ada satu keajaiban yang mau sy sharing, dari sekian banyak yang sy rasakan.
Selepas siaran, langsung masuk Dato Husamuddin. Beliau pemimpin di Sinar dan Karangkraf Grup. Seorang yang sangat disegani.
Dari gelar Dato saja sudah bisa diukur bahwa beliau punya peran sosial yang penting di Malaysia. Beliau juga penerbit Al-Qur’an terbesar di Malaysia. Di Indonesia juga punya share terbesar. Quran Cordoba namanya.
Sangat terkejut saya, karena beliau masuk ruangan. Kami merasa terhormat sekali.
Ternyata, beliau di wa oleh Prof Dr Muhaya, seorang profesor yang amat terkenal di Malaysia. “Bolehkah sy dapat kontak pak Nasrullah yang sedang Live di Sinar” begitu isi wa yang ditunjukkan pada saya.
Langsung lah saya telp Prof Muhaya. Allah kariiim, bergetar saya ditelp oleh orang penting di Malaysia. Yg me-like di akun facebooknya saja 1,3 juta. Kebayang kan betapa famousnya professor mata ini.
Pesan beliau “Saya support pak Nas sebarkan ilmu ini di Malaysia. Saya akan ajak sebanyak mungkin orang utk masuk kelas pak Nas. Saya pun mengundang pak Nas makan malam di rumah saya”
Allaaah... mimpi apa saya... ini ibarat jalan tol, menuju dream saya mengenalkan ilmu ini lebih besar di luar negeri. Saya merasa, Prof Muhaya adalah jalan kebaikan yang Allah kirim, utk memuluskan upaya menyebarkan ilmu ini.
Sebenarnya malam ini beliau undang saya... tapi... sy sudah safar terlalu lama. Sejak jumat meninggalkan rumah. Dan jumat lusa juga saya akan jalan lagi. Ada hak keluarga dan anak2 yg harus sy penuhi dulu.
Saya meminta izin, agar diaturkan ulang. In Syaa Allah sy akan kembali hari selasa ke Malaysia. Waaah jadi sering banget nih ke sini. Ya bismillah... udah terlanjur di LOP kan. Harus terima resikonya kan... hehe...
Dato Husham pun memberi jalan tol, agar buku RMR dicetak di Malaysia. Ya Allah... padahal sy muter otak utk buku ini. Allah kasi solusi yang sederhana.
Terimakasiiiiih sebanyak2nya untuk semua pihak, utamanya Dato Farida selaku pimpinan syarikat SST yg membawahi para ctmr malaysia. Encik Yani, Dato Hussamuddin, Prof Dr Muhaya, Ka Hazlina dan semua para CTMR atas safar yang indah ini.
Smg Allah muliakan kita semua di dunia dan akhirat. Aaamiin.
❤2
Kemarin belum sempat kirim foto saya dan Dato Hussamuddin. Inilah beliau. Seorang pemimpin yang sangat humble. Respect saya pada beliau.
❤1
Ini di toko buku Gramedia Padjajaran Bogor... alhamdulillah
Rania sdh bisa didapat di toko buku Gramedia yaa
Rania sdh bisa didapat di toko buku Gramedia yaa
❤1